Senin, 07 Januari 2013

Bahan Ajar Sosiologi Kls.X Semester 2


BAB I

PENDAHULUAN

A.  IDENTITAS SEKOLAH

Nama Sekolah        : SMA Negeri 1 Payakumbuh
Alamat Sekolah       :  Jl. Merapi 04 Payakumbuh
Mata Pelajaran        : Sosiologi
Kelas/Semester      : X/2 (pertemuan 1-5)

B.  STAN DAR KOMPETENSI

“Memahami Nilai Dan Norma Dalam Proses Pengembangan Kepribadian "

C.  KOMPETENSI DASAR

"Menjelaskan Sosialisasi Sebagai Proses Dalam Pembentukan Kepribadian"

D.  INDIKATOR

Ø      Menjelaskan pengertian sosialisasi berdasarkan pendapat para ahli
Ø      Menjelaskan tujuan sosialisasi
Ø      Menjelaskan tahapan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian
Ø      Menjelaskan agen sosialisasi
Ø      Menjelaskan bentuk-bentuk sosialisasi
Ø      Menjelaskan tipe-tipe sosialisasi
Ø      Menjelaskan pengertian kepribadian.
Ø      Menjelaskan faktor pembentuk kepribadian
Ø      Menjelaskan unsur-unsur penyusun kepribadian.
Ø      Menjelaskan hubungan sosialisasi dengan kepribadian.
Ø      Menjelaskan pengertian kebudayaan
Ø      Menjelaskan unsur-unsur kebudayaan.
Ø      Menjelaskan hubungan kebudayaan dengan kepribadian.

E.   TUJUAN PEMBELAJARAN

Ø      Siswa dapat  menjelaskan pengertian sosialisasi berdasarkan pendapat para ahli
Ø      Siswa dapat menjelaskan tujuan sosialisasi
Ø      Siswa dapat menjelaskan tahapan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian
Ø      Siswa dapat menjelaskan agen sosialisasi
Ø      Siswa dapat menjelaskan bentuk-bentuk sosialisasi
Ø      Siswa dapat menjelaskan tipe-tipe sosialisasi
Ø      Siswa dapat menjelaskan pengertian kepribadian.
Ø      Siswa dapat menjelaskan faktor pembentuk kepribadian
Ø      Siswa dapat menjelaskan unsur-unsur penyusun kepribadian.
Ø      Siswa dapat menjelaskan hubungan sosialisasi dengan kepribadian.
Ø      Siswa dapat menjelaskan pengertian kebudayaan
Ø      Siswa dapat menjelaskan unsur-unsur kebudayaan.
Ø      Siswa dapat menjelaskan hubungan kebudayaan dengan kepribadian

SOSIALISASI DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN


A.  Pengertian Sosialisasi

Manusia berbeda dari binatang. Perilaku pada binatang dikendalikan oleh instink/naluri yang merupakan bawaan sejak awal kehidupannya. Binatang tidak menentukan apa yang harus dimakannya, karena hal itu sudah diatur oleh naluri. Binatang dapat hidup dan melakukan hubungan berdasarkan nalurinya.
Manusia merupakan mahluk tidak berdaya kalau hanya mengandalkan nalurinya. Naluri manusia tidak selengkap dan sekuat pada binatang. Untuk mengisi kekosongan dalam kehidupannya manusia mengembangkan kebudayaan. Manusia harus memutuskan sendiri apa yang akan dimakan dan juga kebiasaan-kebiasaan lain yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaannya. Manusia mengembangkan kebiasaan tentang apa yang dimakan, sehingga terdapat perbedaan makanan pokok di antara kelompok/masyarakat. Demikian juga dalam hal hubungan antara laki-laki dengan perempuan, kebiasaan yang berkembang dalam setiap kelompok menghasilkan bermacam-macam sistem pernikahan dan kekerabatan yang berbeda satu dengan lainnya. Dengan kata lain, kebiasaan-kebiasaan pada manusia/masyarakat diperoleh melalui proses belajar, yang disebut sosialisasi. Berikut beberapa definisi mengenai sosialisasi.

  • Charlotte Buller sosialisasi adalah proses yang membantuk individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
  • Peter l. Berger sosialisasi adalah suatu proses ketika seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
  • Soerjono Soekanto sosialisasi merupakan proses mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru.
  • Koentjaraningrat sosialisasi merupakan suatu proses, yaitu proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses tersebut seorang individu dari masa anak-­anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.
  • Irvin L. child dalam bukunya sosialization mengatakan bahwa sosialisasi adalah segenap proses individu yang dilahirkan dengan banyak sekali potensi tingkah laku. Dituntut untuk mengembangkan potensi tingkah laku aktualnya, yang dibatasi di dalam satu jajaran menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya.
  • Hasan Shadily; Sosialisasi adalah proses di mana seseorang mulai menerima dan menyesuaikan diri terhadap adat istiadat suatu golongan.  Di mana lambat laun ia akan merasa sebagian di golongan itu.
  • Robert M.Z. Lawang: Sosialisasi adalah proses mempelajari nilai, norma, peran dan persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan seseorang dapat berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sosial.
  • Horton dan Hunt: Suatu proses yang terjadi ketika seorang individu menghayati nilai-nilai dan norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga terbentuklah kepribadiannya.

Sosialisasi mencakup beberapa hal sebagai berikut :
  • Kegiatan belajar menurut Dimyati dan kawan-kawan, belajar adalah peristiwa komplek dan berkelanjutan yang berlangsung setiap hari.
  • Penyesuain diri
  • Pengalaman mental.  Pengalaman seseorang sebagai hasil dari proses sosialisasi dan internalisasi nilai akan mengakibatkan terbentuknya sikap pada diri seseorang.
Dalam proses sosialisasi terjadi paling tidak tiga proses, yaitu: (1) belajar nilai dan norma (sosialisasi), (2) menjadikan nilai dan norma yang dipelajari tersebut sebagai milik diri (internalisasi), dan (3) membiasakan tindakan dan perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang telah menjadi miliknya (enkulturasi).

1.    Fungsi Sosialisasi

1)       Bagi individu: agar dapat hidup secara wajar dalam kelompo/masyarakatnya, sehingga tidak aneh dan diterima oleh warga masyarakat lain serta dapat berpartisipasi aktif sebagai anggota masyarakat
2)       Bagi masyarakat: menciptakan keteraturan sosial melalui / dengan memfungsikan  sosialisasi sebagai sarana pewarisan nilai dan norma serta pengendalian sosial.

2.    Tujuan Sosialisasi

1)       sosialisasi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dapat memberikan kepada si anak bekal untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat.
2)       Supaya masyarakat tetap dengan semua nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.
3)       Memberi dan menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan bercerita.
4)       Proses pembentukan sikap.
5)       Memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seorang individu untuk hidup bermasyarakat.
6)       Membantu pengandalian fungsi organik yang dipelajari melalui latihan mawas diri.
7)       Membiasakan individu dengan nilai-nilai kepercayaan pokok dan mendasar yang ada pada masyarakat dimana ia tinggal.

3.   Proses Tahapan Sosialisasi

a.   Tahap Persiapan (Preparatory stage)
Tahap persiapan adalah suatu tahap persiapan bagi seseorang dalam dalam mengenal dunia sosialnya, termasuk persiapan untuk memperoleh pemahaman tentang dirinya. Tahap ini di alami seseorang sejak ia dilahirkan ke dunia (1-5 tahun). Dalam tahap ini individu meniru perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi belum mampu memberi makna apapun dari tindakan yang ditiru.
(Merupakan peniruan murni.)
Contonya ketika seorang anak balita belajar berbicara pertama kali la dikenalkan dengan kata-kata yang mudah ditirunya kata " minum" dengan kata "makan" dengan "mam-mam".

b.  Tahap meniru (play Stage)
Play Stage, atau tahap permainan (usia 6 – 12 tahun), anak mulai memberi makna terhadap perilaku yang ditiru. Mulai mengenal bahasa. Mulai mendefinisikan siapa dirinya (identifikasi  diri) sebagaimana definisi yang diberikan oleh significant other.
Significant other merupakan orang yang secara nyata penting bagi seseorang dalam proses sosialisasi. Bagi anak-anak dalam tahap play stage, orangtua merupakan significant other. Bahkan, anak-anak tidak dapat memilih siapa significant other-nya! Ketika ada yang menyapa: “Hi, Agus”, maka anak mengerti: “Oh – aku Agus”. “Hi, Pintar”. “Oh, aku pintar”. “Bodoh banget kamu”. “Oh, aku bodoh banget”, dan setertusnya. Definisi diri pada tahap ini sebagaimana yang diberikan oleh significant other.

c.  Tahap Siap Bertindak (Game Stega)
§         Tahap ini berbeda dari tahap permainan, karena tindakan meniru digantikan dengan
tindakan yang disadari.
§         Tidak hanya mengetahui peran yang dijalankannya, tetapi juga peran orang lain dengan
siapa ia berinteraksi.
§         Bisakah Anda membedakan antara “bermain bola” dengan “pertandingan sepakbola”?
Bermain bola dapat dilakukan oleh anak-anak pada yang telah mengalami sosialisasi
tahap play stage, tetapi bertanding sepakbola baru dapat dilakukan oleh anak-anak yang telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage. Mengapa demikian? Karena dalam pertandingan sepakbola ada prosedur dan tatacara yang harus ditaati. Anak-anak akan memahami tentang prosedur dan tatacara apabila telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage. ( 13 – 17 tahun).

d.   Tahap Penerimaan Norma Kolektif (generalized Stage) ( 17 tahun keatas)
Pada tahap ini individu telah mampu mengambil peran yang dijalankan oleh orang-orang dalam masyarakatnya, ia telah mampu berinteraksi dan memainkan perannya dengan berbagai macam orang dengan status, peran dan harapan yang berbeda-beda dalam masyarakatnya.
Pada tahap ini seorang telah dianggap dewasa. Dia telah mampu menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dimana individu telah mampu mentaati nilai  dan norma yang ada dalam mayarakat, mereka telah menjadi anggota masyarakat sepenuhnya.
Menurur Charles H. Cooley menekankan pentingnya peran interaksi dalam proses sosialisasi dimana seorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain yang terbentuk melalui tiga tahap :
Ø       Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.
Ø       Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai diri kita.
Ø       Bagaimana perasaan kita sebagai akibat penilaian tersebut.

B.   Agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi. Dapat juga disebut
sebagai media sosialisasi.
Jacobs dan Fuller (1973), mengidentifikasi empat agen utama sosialisasi, yaitu: (1)
keluarga, (2) kelompok pertemanan, (3) lembaga pendidikan, dan (4) media massa. Para ahli
sosiologi menambahkan juga peran dan pengaruh dari lingkungan kerja.
1.    Keluarga
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia karena keluarga mempakan kelompok primer yang selalu tatap muka diantara anggotanya, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggotanya, orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya sehingga menimbulkan hubungan emosional yang kuat dalam proses sosialisasi dan adanya hubungan sosial yang tetap. Peran sosialisasi dalam keluarga rnempunyai fungsi dominan dalam pembentukan keperibadian anak 3 . Keluarga adalah ling bagi setiap lingkungan yang pertama dan utama bagi setiap individu. Dalam hal ini peran orang tua :
§         Memberikan pengawasan dan pengendalian yang sewajarnya dengan tujuan agar jiwa anak tidak merasa tertekan.
§         Mendorong agar anak bisa membedakan anatar perilaku yang baik dan buruk dan benar salah serta pantas dan tidak pantas dilakukan.
§         Menjadi teladan dan memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Pola sosialisasi dalam keluarga
Terdapatnya dua macam pola proses sosialisasi di lingkungan keluarga, yaitu        sebagai berikut :
    a)   Sosialisasi Represif (Repressive sicialization)
Yaitu pola sosialisasi yang mengutamakan kepatuhan anak terhadap orang tua. Ciri-ciri yang lain dari pola sosialisasi seperti ini adalah menghukum prilkau yang keliru, hukuman dan imbalan berupa materi, menekankan komunikasi yang bersifat satu arah dan berisi perintah, berpusat pada orang tua, anak memperhatikan orang tua, serta keluarga merupakan dominasi orang tua. [dapat mengakibatkan anak cacat fisik...?], untuk lebih jelasnya sosialisasi Represif menekankan pada:
(1)  penggunaan hukuman,
(2)  memakai materi dalam hukuman dan imbalan,
(3)  kepatuhan anak pada orang tua,
(4)  komunikasi satu arah (perintah),
(5)  bersifat nonverbal,
(6)  orang tua sebagai pusat sosialisasi sehingga keinginan orang tua menjadi penting.
(7)  keluarga menjadi significant others.


    b)   Sosialisasi Partisipatoris (Partisipatory Sosialization)
Yaitu pola pola sosialisasi yang mengutmnakan adanya partisipasi dari anak. Dalam pola sosialisasi seperti ini anak diberi kebebasan dimana anak-anak diberi imbalan ketika anak berperilaku baik dan diberi hukuman ketika ia berbuat kesalahan. Cirl-cirl yang, melekat pada sosialisasi pertisipatoris adalah penekanan pada interaksi dan komunikasi yang bersifat lisan dan dua arah, sehingga hukuman dan imbalan yang diperoleh anak bersifat simbolis. Sosialisasi partisipatoris menekankan pada
(1)  individu diberi imbalan jika berkelakuan baik,
(2)  hukuman dan imbalan bersifat simbolik,
(3) anak diberi kebebasan,
(4)  penekanan pada interaksi,
(5)  komunikasi terjadi secara lisan/verbal,
(6)  anak pusat sosialisasi sehingga keperluan anak dianggap penting, dan
(7)  keluarga menjadi generalized others
  1. Kelompok Bermain / teman sebaya
Agen sosialisasi bagi anak setelah keluarga adalah teman atau kelompok bermain yang dalam istilah sosiologi disebut peer group. Kelopok bermain pada usia anak--anak- meliputi teman-­teman,  tetangga, keluarga, dan kerabat yang sebaya dengannya. Dalam kelompok ini seorang anak mulai belajar aturan-aturan yang belum tentu sama dengan kebiasaan yang dilakukannya di dalam kelaurga. la dituntut untuk menghargai hak orang lain, toleran terhadap teman, serta  memainkan suatu peran tertentu. Adapun peranan positif kelompok bermain sebagai berikut :
·     Anak merasa aman dan nyaman karena dianggap penting dalam kelompoknya..
·     Kelompok persahabatan dapat mengembangkan sikap kemandirian remaja dengan baik
·        Remaja dapat tempat yang baik untuk menyalurkan rasa kecewa, khawatir, takut, gembira, dan sebagainya yang mungkin tidak didapatkan dirumah.
·        Remaja dapat mengembangkan keterampilan sosial yang mungkin berguna bagi kehidupannya kelak melalui interaksi dalam kelompoknya.
·        Kelompok persahabatan biasanya memiliki pola perilaku dan kaidah-kaidah tertentu yang dapat mendorong remaja untuk bersikap   lebih dewasa.
·     Setiap anggota kelompok dapat mengembangkan keterampilan berorganisasi.
3.   Lembaga pendidikan / Sekolah
Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Seseorang akan mempelajari hal-ahal yang baru yang belum pernah dipelajarinya di dalam keluarga maupun kelompok bermain melalui sekolah. Di lingkungan rumah, seorang anak menghargai. Dalam lembaga pendidikan sekolah seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalise, dan kekhasan (specificity) bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa  tanggung jawab. Sekolah sebagai agen sosialisasi dapat mempengaruhi perkembangan intelektual, disamping itu juga mempengaruhi perkembangan kepribadian.
Sekolah sangat berperan untuk mengantarkan para pelajar agar menjadi dirinya sendiri dengan baik. Untuk itu sekolah mengemban beberapa fungsi seperti:
a.       Mengembangkan potensi para pelajar agar memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupannya kelak.
b.      Mewariskan dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang telah terbina secara tradisional sehingga akan tetap terjaga kelestariannya.
c.       Membina para pelajar untuk menjadi warga negara yang baik, berjiwa demokratis, berwawasan kebangsaan.
d.      Membina para pelajar untuk menjadi manusia-manusia yang berjiwa religius, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Proses pendidikan yang diselenggarakan di sekolah akan berhasil secara maksimal apabila didukung oleh proses pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga dan di masyarakat. Keluarga, masyarakat, dan sekolah merupakan tiga pusat pendidikan atau dikenal dengan istilah Tri Pusat Pendidikan yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kepribadian seseorang.
4.   Peran media massa

Para ilmuwan sosial telah banyak membuktikan bahwa pesan-pesan yang disampaikan melalui media massa (televisi, radio, film, internet, surat kabar, makalah, buku, dst.)
memberikan pengaruh bagi perkembangan diri seseorang, terutama anak-anak. Beberapa hasil penelian menyatakan bahwa sebagaian besar waktu anak-anak dan remaja dihabiskan untuk menonton televisi, bermain game online dan berkomunikasi melalui internet, seperti yahoo messenger, google talk, friendster, facebook, dll.
Diakui oleh banyak pihak bahwa media massa telah berperan dalam proses homogenisasi, bahwa akhirnya masyarakat dari berbagai belahan dunia memiliki struktur dan kecenderungan cara hidup yang sama
5.   Sistem/lingkungan kerja dan masyarakat
Di lingkungan kerja seseorang juga belajar tentang nilai, norma dan cara hidup. Tidaklah berlebihan apabila dinyatakan bahwa cara dan prosedur kerja di lingkungan militer berbeda dengan di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi. Seorang anggota tentara akan bersosialisasi dengan cara kerja lingkungan militer dengan garis komando yang tegas. Dosen atau guru lebih banyak bersosialisasi dengan iklim kerja yang lebih demokratis.

 Masyarakat
Masyarakat  memberikan pengaruh yang basar dalam proses sosialisasi seseorang. Pada masyarakat pedesaan yang bersifat homogen sehinnga. proses sosialisasi berjalan dengan lancar tetapi pada masyarakat perkotaan yang tingkat kemajemukannya sangat tinggi sehingga proses sosialisasi agak sulit terjadi.

C.    Bentuk-Bentuk Sosialisasi
1.    Sosialisasi Primer
Menurut Peter L. Berger dan Luckman menyatakan bahwa sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani individu dari masa anak-anak (kecil) melalui belajar  menjadi anggota masyarakat (keluarga). Proses sosialisasi primer berlangsung pada anak berusia 1-5 tahun ketika anak tersebut belum memasuki lingkungan pendidikan formal di sekolah. Pada tahap berlangsungnya sosialisasi primer peran orang-orang terdekat anak menjadi sangat panting, hal tersebut terjadi karena anak melakukan poly interaksi terbatas dalam komunitas tersebut, sehingga warna kepribadian anak akan banyak ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjalin antara si anak dengan orang-orang yang terdekat. Sosialisasi primer bukan hanya sekedar proses awal berlangsungnya sosialisasi, namun Iebih dari itu adalah dasar pembentukan karakter dan karakter anak.

2.    Sosialisasi sekunder
sosialisasi ini merupakan proses sosialisasi lanjutan dari sosialisasi primer dalam rangka memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Terdapatnya dua bentuk sosialisasi sekunder yaitu sebagai herikut :
a.       Resosialisasi yaitu proses sosialisasi di mana seseorang mendapat suatu identitas diri yang baru.
b.       Desosialisasi yaitu proses sosialisasi di mana seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang telah dimiliki.
Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja.
Tipe-Tipe Sosialisasi
Tipe sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut
1.      Sosialisasi formal
adalah sosilisasi yang terjadi melaluai lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, misaInya pendidikan di sekolah.
2.       Sosialisasi informal
adalah sosialisasi yang bersifat kekeluargaan, misalnya antar teman (sahabat), antar anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial, dan dalam keluarga.
3.      Sosialisasi non formal
Adalah sosialisasi yang berlangsung dalam masyarakat, misalnya bimbingan belajar, kursus-kursus.
Ketiga tipe sosilisasi di atas pada dasamya tetap mengarah pada pertumbuhan kepribadian anak agar sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat di lngkungannya.

D.  Fungsi nilai dan norma sosial dalam proses sosialisasi

Ada beberapa fungsi nilai sosial dalam proses sosialisasi

  • Sebagai pendorong. Nilai sosial yang berfungsi sebagai pendorong adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan cita-cita dan harapan.
  • Sebagai petunjuk arah. Nilai sosial memengaruhi cara berfikir, berperasaan, bertindak, dan menjadi panduan dalam menentukan pilihan.
  • Sebagai alat pengawas. Nilai sosial menuntun, mendorong, bahkan tidak jarang pula memaksa anggota masyarakat untuk bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Apabila ada seseorang yang melanggar nilai dan norma maka ia akan merasa bersalah dan tersiksa.
  • Sebagai alat solidaritas. Solidaritas dalam kelompok atau masyarakat akan terjaga dengan adanya nilai sosial.
  • Sebagai benteng perlidungan. Artinya dapat menjaga stabilitas budaya dalam suatu kelompok, maupun masyarakat yang bersangkutan.

E.   Desosialisasi dan Resosialisasi
Beberapa lembaga yang ada dalam masyarakat berfungsi melaksanakan proses resosialisasi
terhadap anggota masyarakat yang perilakunya tidak sesuai harapan sebagian besar warga
masyarakat (baca: menyimpang), dari yang penyimpangannya berkadar ringan sampai yang
berat.
Lembaga yang dimaksud antara lain: penjara, rumah singgah, rumah sakit jiwa, pendiidkan militer, dan sebagainya. Di lembaga-lembaga itu nilai-nilai dan cara hidup yang telah menjadi milik diri seseorang, karena tidak sesuai dengan nilai dan norma serta harapan sebagian besar warga masyarakat, dicabut (desosialisasi) dan digantikan dengan nilai-nilai dan cara hidup baru yang sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat. Proses penggantian nilai dan cara hidup lama dengan nilai dan cara hidup baru ini disebut resosialisasi.

SOSIO INFO
SOSIALISASI

Menurut Hasan Mustafa, sosialisasi adalah sebuah proses di mana kita belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana kesemuanya itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif.
Peran sosialisasi dalam kehidupan manusia sangat penting, antara lain mampu memberikan dasar bagi manusia untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan mampu melestarikan kehidupan masyarakat itu sendiri. Tanpa adanya sosialisasi, mustahil manusia untuk mengembangkan kehidupan sosial dengan sesamanya. Sementara itu, tanpa adanya sosialisasi nilai-nilai budaya maka generasi penerus akan kesulitan menemukan identitas budayanya.
Ada beberapa syarat terjadinya sosialisasi, antara lain sebagai berikut. Pertama, secara biologis memungkinkan manusia untuk selalu mengadakan pembelajaran. Ia lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Sosialisasi manusia senantiasa
berkembang seiring dengan perkembangan biologisnya. Kedua, lingkungan yang baik juga akan mempermudah manusia dalam bersosialisasi. Sosialisasi dilakukan manusia sejak ia dilahirkan di dunia. Semenjak bayi, manusia telah hidup dalam lingkungan sosial. Oleh karena itu, fungsi
sosialisasi adalah mengalihkan segala macam informasi yang ada dalam masyarakat tersebut kepada anggota-anggota barunya agar mereka dapat segera dapat berpartisipasi di dalamnya. Artinya, yang disosialisasikan oleh manusia adalah kebudayaan yang berintikan nilai yang berkaitan dengan hal baik dan buruk serta norma yang berkaitan dengan aturan baku
yang harus dipatuhi manusia. Sosialisasi bisa berlangsung karena peran institusi, media massa, individu, dan kelompok.
Ada tiga teori yang menjelaskan proses pembelajaran dalam sosialisasi.
1.    Teori pembelajaran sosial (social learning theory)
Menurut B.F. Skinner (1953), proses pembelajaran sosial bisa dilakukan dengan mengkondisikan. Orang tua yang menginginkan anaknya taat dan patuh, bisa mengkondisikan keadaan di lingkungan rumahnya dengan memberi contoh, menasihati, memuji, atau memberi hukuman.
Menurut Albert Bandura, proses pembelajaran dalam sosialisasi bisa dilakukan dengan meniru perilaku orang lain. Anak bisa berperilaku disiplin dengan meniru kedisiplinan yang diterapkan kedua orang tuanya.
2.   Teori perkembangan individu (developmental theory)
Menurut Erik Ericson (1950), dalam sosialisasi ada delapan tahap perkembangan: rasa percaya pada lingkungan, kemandirian, inisiatif, kemampuan psikis dan pisik, identitas diri, hubungan dengan orang lain secara intim, pembinaan keluarga/keturunan, penerimaan kehidupan.
3. Teori interaksi simbolis (symbolic interaction theory)
Inti dari teori ini adalah memusatkan pada kajian tentang bagaimana individu menginterpretasikan dan memaknakan interaksi-interaksi sosialnya. Menurut Herbert Mead (1934) ada tiga proses tahapan pengembangan diri: preparatory stage saat anak mencoba memberikan makna pada perilakunya, play stage saat anak mulai belajar berperan seperti orang lain, dan game stage saat anak melatih ketrampilan sosialnya.
Sumber: dikutip secara bebas dari tulisan Hasan Mustafa dalam
http://home.unpar.ac.id/~hasan/SOSIALISASI.doc








 KEPRIBADIAN
A.      Pengertian Kepribadian
Dalam penjelasan tentang agen-agen sosialisasi telah disinggung tentang pentingnya sosialisasi dalam membentuk karakter kepribadian seseorang. Bagaimana sosialisasi berjalan membentuk kepribadian yang unik karena setiap manusia mempunyai kepribadian yang berbeda walaupun hidup dalam lingkungan yang sama.

Kepribadian merupakan gambaran secara umum dari perilaku seorang individu yang sangat khas yang dapat terlihat dari perilaku seharihari. Wujud nyata dari kepribadian dapat berupa banyak hal antara lain perangai, sikap, atau perilaku, tutur kata, persepsi, kegemaran, keimanan, dan sebagainya. Kepribadian merupakan perpaduan antara warisan biologis yang diterima seseorang dari leluhurnya dengan pengaruh lingkungan melalui proses interaksi dan proses sosialisasi sejak lahir hingga dewasa. Sebelum kalian mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya kepribadian maka terlebih dahulu kalian harus mengetahui apa yang dimaksud dengan kepribadian.
1.      Theodore M. Newcomb
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
2.       J. Milton Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Yang dimaksud dengan kecenderungan tertentu itu adalah bahwa setiap orang mempunyai cara berperilaku yang khas dan bertindak sama setiap hari.
3.      John F. Cuber
Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat
oleh seseorang.
4.      M.A. W Brower
Keribadian adalah adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang.
5.      Horton
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, eksperesi, dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada stuasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan berperilaku yang baku, atau berpola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.
6.      Schaefer &, Lamm
Kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas, dan perilaku seseorang. Pola berarti seseuatu yang sudah menjadi standar atau baku, berlaku terus‑ menerus secara konsisten dalam menghadapi stuasi yang dihadapi.
Jadi berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepribadian adalah keseluruhan tingkah laku,nilai,pola berfikir yang dinamis dan terintegrasi serta bersifat unik (khas) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kepribadian merupakan ciri-ciri watak yang khas yang dimiliki setiap individu yang berbeda satu sama lain dan menjadi identitas bagi dirinya
B. Faktor-Faktor Penentu Pembentukan Kepribadian
1.   Warisan biologis, semua hal yang diterima seseorang sebagai manusia melalui gen kedua orang tuannya. Setiap manusia sehat dan normal memiliki kesamaan biologis tertentu seperti tubuh dengan dua tangan, dua kaki, lima indra dan otak yang komplek. Kesamaan biologis ini menjelaskan kemiripan kepribadian dan tingkah laku antarmanusia. misalnya bentuk tubuh, apakah endomorph/gemuk bulat, ectomorph/kurus tinggi, dan esomorph/atletis. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa mesomorph lebih berpeluang melakukan tindakan-tindakan, termasuk berperilaku menyimpang dan melakukan kejahatan)
2.   Faktor Lingkungan fisik (faktor geografis), sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang meskipun beberapa ahli sosiologi. berpendapat bahwa faktor lingkungan georafis tidak begitu penting pengaruhnya terhadap kepribadian seseorang dibandingkan dengan faktor-faktor yang lain. Contohnya beda kekayaan alam, dimana orang yang mempunyai kekayaan alam yang banyak mereka mudah untuk memenuhi kebutuhan hidup, berbeda dengan orang yang sumber kekayaannya rendah mereka harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
3.   Faktor lingkungan kultural (Kebudayaan khusus masyarakat), dapat berupa:
1)       Kebudayaan khusus kedaerahan atau etnis (Jawa, Sunda, Batak, Minang, dst.)
Cara hidup yang berbeda antara desa (daerah agararis-tradisional) dengan kota
(daerah industri-modern)
2)       Kebudayaan khusus kelas sosial (ingat: kelas sosial buka sekedar kumpulan dari
Orang-orang yang tingkat ekonomi, pendidikan atau derajat sosial yang sama,
Tetapi lebih merupakan gaya hidup)
3)       Kebudayaan khusus karena perbedaan agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu,
Budha, dan lain-lain)
4)       Pekerjaan atau keahlian (guru, dosen, birokrat, politisi, tentara, pedagang,
Wartawan, dll.)
4.  Faktor Pengalaman Kelompok, terdapat dua kelompok yang cukup berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang yaitu sebagai berikut
Ø      Kelompok acuan (Kelompok Reference), yang menjadi acuan adalah keluarga, teman
       sebaya.

Ø      Kelompok. Majemuk, kelopok ini lebih menunjukkan kepada realita masyarakat yang lebih komplek dan beraneka ragam. Dimana dalam kelompok majemuk seorang anak akan menemukan ada banyak orang dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. (LKS. Kelas X hal. 7-18).
5.  Faktor Pengalaman yang unik (misalnya sensasi-sensasi ketika seseorang dalam situasi jatuh cinta)
C.   Faktor dasar yang mempengaruhi pembentukan kepribadian
1.    Sifat dasar
Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seorang dari ayah dan ibunya yang diperoleh saat konsepsi (saat terjadinya hubungan suami istri ). sifat dasar yang masih merupakan potensi tersebut akan berkembang menjadi aktualisasi karena pengaruh faktor-faktor lain
2..  Lingkungan prenatal
Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan ibu. Pada periode ini individu mendapat pengaruh tidak langsung dari ibu. Pengaruh itu antara lain:
a.       struktur tubuh ibu merupakan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan
b.      beberapa jenis penyakit yang diderita ibu seperti diabetes, aid, secara langsung berpengaruh terhadap perkembangan mental, penglihatan dan pendengaran si bayi
c.       gangguan pada kelenjar endokrin yang dapat mengakibatkan keterbelakangan perkembangan anak
d.      shock pada saat melahirkan dapat mernpengaruhi kondisi anak.

3.    Perbedaan individual (perorangan)
Perbedaan individual meliputi perbedaan cirri-ciri fisik, seperti warna mata, kulit, rambut, bentuk badan.
4.    Lingkungan
Lingkungan adalah segala kondisi disekeliling individu yang mempengaruhi proses sosialisasi. Lingkungan dapat dibagi atas tiga bagia yaitu (lingkungan alam,lingkungan kebudayaan,dan lingkungan sosial)
5.   motivasi
Motivasi merupakan kekuatan dari dalam diri individu yang mendorong individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan.

D.   Unsur-unsur penyusun Kepribadian
    
Ada beberapa unsur penyusun kepribadian
1.     Pengetahuan
Pengetahuan individu terisi dengan fantasi, pemahaman, dan konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang berada dalam lingkungan individu tersebut. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungkapkan oleh individu tersebut dalam bentuk perilaku.
2.     Perasaan
Adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu. Bentuk penilaian itu dipengaruhi oleh pengatahuannya.
3.     Dorongan Naluri
Adalah kemauan yang sudah merupakan naluri pada setiap manusia. Ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu :
1)       Dorongan untuk mempertahankan hidup
2)       Dorongan seksual
3)       Dorongan untuk mencari makan
4)       Dorongan untuk bergual dan berinteraksi dengan sesama manusia
5)       Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya
6)       Dorongan untuk berbakti
7)       Dorongan untuk keindahan bentuk, warna, suara dan gerak.
Beberapa karakteristik kepribadian
·        Mampu menilai diri secara realistik
·        Mampu menilai stuasi secara realistik
·        Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik
·        Menerima tanggung jawab
·        Kemandirian
·        Dapat mengontrol emosi 
·        Berorientasi tujuan
·        Berorientasi keluar
·        Penerimaan sosial
·        Memeiliki filsafat hidup 
·        Berbahagia
Sedangkan kepribadian yang tidak sehat ditandai dengan karakteristik sebagai berikut
o       Mudah marah
o       Menunjukkan kecemasan
o       Sering merasa tertekan bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya relatif lebih muda atau terhadap binatang
o       Memiliki kebiasaan berbohong
o       Hiperaktif
o       Bersikap memusuhi segala bentuk otoritas.
o       Gemar mengkritik atau mencemooh orang lain.
o       Susah tidur

E.   Hubungan Kepribadian dengan sosialisasi
Hubungan antara kepribadian dengan sosialisasi sangat erat dimana kalau sosialisasi seorang individu baik,  maka kepribadiannya akan baik karena dia dibentuk oleh keluarga yang baik.








KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN

1.  Pengertian Kebudayaan

  1. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa kata kebudayaan berasal dari kata sangserkerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, bearti budi atau akal, dengan demikian, kebudayaan bisa diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
  2. E.B. Tylor (1871.) kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  3. Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardei merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil, karya, rasa,  dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
  4. Kluckhohn & Kelly kebudayaan adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.
5.   Menurut J.J Hoenigman wujud kebudayaan ada tiga yaitu
a)      Gagasan
      Merupakan wujud ideal kebudayaan yang berupa kumpulan ide-ide. nilai-nilai, norma-noma, peraturan, dan sebagainya. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba, dan disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam, kepala-kepala atau di dalam pikiran warga masyarakat.
b)       Aktivitas
      Merupakan wujud kebudayaan sebagai suatu kegiatan serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya bisa diamati, difoto, dan didokumentasikan.
c)       Artefak
      Merupakan wujud kebudayaan fisik yang bempa hasil dari aktivitas, perhuatan. dan karya manusia dalam masyarakat. Wujud artefak dapat herupa benda-benda atau hal yang dapat, dilihat, dan didokumentasikan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan dari sistem gagasan, ide, tindakan dan hasil karya manusia yang diperoleh oleh manusia tersebut dari hasil belajar dalam masyarakatnya.

2.  Unsur-unsur Kebudayaan
Menurut Mellville J. Herskovirs mengajukan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu
1)       Alat-alat teknologi
2)       Sistem ekonomi
3)       Keluarga
4)       Kekuasaan Politik
Bronislaw malanowski, yang terkenal sebagai salah seorang pelopor teori fungsional dalam antropoiogi, menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan antara lain:
a)       Sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam, sekelilingnya,
b)      Organisasi ekonomi
c)       Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama.
d)      Organisasi kekuatan
Menurut Antropolog C. Kluckhohn dalam sebuah karyanya yang berjudul Universal Categories of culture ada tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal yaitu :
1)       Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, dan transport).
2)       Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian,  peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya).
3)       Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
4)       Bahasa (lisan maupun tertulis)
5)       Kesenian (seni rupa, seni suara. seni gerak dan sebagainya)
6)       Sistem pengetahuan
7)       Religi (sistem kepercayaan).


PENGARUH SOSIALISASI NILAI (BUDAYA) TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

Kepribadian tidak akan tumbuh jika seorang individu tidak memiliki pengalaman- Pengalaman sosial. Di dalam kelompok sosial seorang individu akan mempelajari berbagai nilai, norma, dan sikap. Dengan mengetahui dari mana lingkungan sosial seseorang berasal, dapat diketahui kepribadian seseorang tersebut. Dengan kata lain, sosialisasi berperan dalam membentuk kepribadian seseorang. Jika proses sosialisasi berlangsung dengan baik, maka akan baik pula kepribadian seseorang. Begitu sebaliknya, jika sosialisasi berlangsung kurang baik, maka kurang baik pula kepribadian seseorang. Misalnya, seorang anak yang berasal dari keluarga yang broken home tentunya si anak mengalami sosialisasi yang kurang baik, akibatnya anak tersebut menjadi nakal. Dengan demikian, proses pembentukan kepribadian dimulai dari proses sosialisasi baik di lingkungan keluarga, teman sepermainan, lingkungan sosial, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat luas


Dari bagan di atas, kita bisa melihat bahwa kepribadian seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan media massa. Tidak aneh apabila ada anak yang telah dibekali oleh orang tuanya denganberagam nilai dan norma, menjadi berantakan karena bergaul dengan lingkungan yang tidak sehat. Apalagi di era globalisasi ditandai dengan pergaulan bebas. Nilai dan norma yang telah ditanamkan oleh kedua orang tua seakan-akan menjadi absurd dan ketinggalan zaman. Benarkah?
Selain itu, kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh kebudayaan yang berlaku di lingkungan sekitar. Kebudayaan merupakan polapola tindakan yang sering diulang-ulang yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan ini digunakan untuk memberikan arah kepada individu ataupun kelompok, bagaimana seharusnya ia berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain bahkan, telah menjadi tuntutan masyarakat di mana pun dan dalam kurun waktu kapan pun. Oleh karena itu, kebiasaan-kebiasaan melekat dalam diri masyarakat, diperkenalkan dan dipelajari oleh individuindivitu secara terus-menerus. Dalam proses yang panjang inilah, kepribadian terbentuk seiring dan sesuai dengan kebudayaan setempat. Oleh karena itu, kebudayaan antarsatu daerah dengan daerah lain berbeda, maka dapat dipastikan kepribadian dari dua kebudayaan tersebut berbeda pula. Misalnya, seorang yang berasal dari suku Jawa tentu memiliki kepribadian yang berbeda dengan seorang yang berasal dari suku Batak. Orang yang berasal dari suku Jawa terkesan lebih halus dan lembut. Namun, orang Batak terkesan tegas dan keras. Perbedaan ini menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian seseorang.

AKTIVITAS KELOMPOK
Selain proses sosialisasi, kebudayaan setempat dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Misalnya, orang asing yang berasal dari budaya Barat akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang yang berbudaya Timur. Sebagai tugas terakhirmu dalam bab ini, cobalah bersama teman sekelompokmu membuat sebuah kliping yang menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian individu. Selanjutnya, berikan kesimpulan sederhana mengenai isi kliping yang telah kalian buat. Hasilnya kumpulkan kepada guru tepat pada waktu yang telah ditentukan. Selamat bekerja

RANGKUMAN
Sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga sampai pada masyarakat luas. Proses sosialisasi yang dialami oleh individu mampu membentuk kepribadian diri individu tersebut. Dengan kata lain, sosialisasi merupakan salah satu proses dalam pembentukan kepribadian.
Untuk memahami lebih lanjut, salin dan lengkapilah beberapa pengertian di bawah ini ke dalam buku catatanmu dengan menggunakan beragam sumber pustaka

Faktor yang Memengaruhi Pembentukan kepribadian
a. Sifat dasar
b. Lingkungan
c. . . . .
d. . . . .
e. Motivasi
2. Media-Media Sosialisasi
a. Keluarga
b. Sekolah
c. . . . .
d. Media

3. Faktor-Faktor Pembentukan Kepribadian
a. Warisan biologis
b. . . . .
c. Lingkungan sosial

4. Tahap Pengembangan Diri/Kepribadian Menurut Mead
a. Imitation stage
b. . . . .
c. . . . .
d. Generalized Others

UJI KOMPETENSI
A. Jawablah pertanyaan dengan tepat!
1. Jelaskan pengertian sosialisasi menurut Hasan Shadily!
2. Sebutkan dan jelaskan dua cara terjadinya sosialisasi!
3. Jelaskan fungsi umum sosialisasi!
4. Sebutkan faktor-faktor pembentuk kepribadian!
5. Jelaskan peranan sosialisasi dalam membentuk kepribadian!
6. Jelaskan mengapa keluarga disebut tempat pertama berlangsungnya sosialisasi!
7. Sebutkan fungsi penting sekolah dalam proses sosialisasi!
8. Sebutkan tujuan dari proses sosialisasi itu sendiri!
9. Bilamana proses sosialisasi dikatakan berhasil?
10. Jelaskan hubungan antara sosialisasi dengan kepribadian!














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar